Minggu, 28 Juli 2013

Yuk Ayah Bunda, Bantu Anak Untuk Sukses Beradaptasi di Sekolah !

Sharing kunjungan KidsDale ke Rubel School di Jakarta Barat.

Pada hari Sabtu, 27 Juli 2013, KidsDale berkesempatan mengunjungi Rubel School sebuah sekolah play group dan TK di Jakarta Barat.  Kami diundang untuk memberikan materi dengan judul Peran Orang Tua dalam Keberhasilan Anak di Sekolah.  Materi ini dipilih untuk membantu beberapa permasalah khas yang timbul ketika anak usia dini memasuki dunia sekolah.  

Tidak semua anak merasa nyaman masuk ke dunia sekolah.  Anak yang menangis dan menolak untuk berpisah dengan ayah atau bundanya di hari pertama sekolah, merupakan hal yan biasa terjadi hampir di semua TK.  Mungkin ayah dan bunda juga mengalami hal yang sama ketika putra/putri anda masuk TK untuk pertama kalinya.  Jika jawabannya ya, semoga minggu ini mereka sudah lebih bisa beradaptasi ya, mengingat saat ini kita sudah akan masuk minggu ketiga masa sekolah anak.

Ya ayah & bunda, anak-anak butuh bantuan untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya yaitu TK tempat ia bersekolah.  Apakah semua anak bermasalah di hari pertamanya?  Jawabannya tidak, dan biasanya ini berlaku untuk anak-anak yang sebelumnya sudah punya banyak pengalaman berinteraksi dengan anak-anak dan orang dewasa, yang sudah pernah ikut play group atau yang sudah merasa tidak asing lagi dengan kegiatan di sekolah atau tidak asing lagi dengan lingkungan sekolah.   Dalam dialok dengan para orang tua di Rubel School hal ini pun menjadi pembahasan yang menarik, karena mereka pun punya pengalaman yang kurang lebih sama, anak mereka akan lebih siap sekolah jika sebelumnya tidak merasa asing dengan pengalaman barunya, pengalaman bersekolah.

Lalu apa yang bisa ayah & bunda lakukan untuk membantu anak siap?  Ada beberapa tips, diantaranya adalah :
  1.  Kenalkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan di sekolah pada anak, agar anak tidak merasa asing.  Misalnya : bermain, bernyanyi, membaca buku, kegiatan art & craft.
  2. Biasakan anak untuk melakukan kegiatan sehari-hari dengan teratur. Misalnya dengan menerapkan disiplin waktu mandi, makan, menonton TV dan sebagainya.  Hal ini akan mempermudah anak untuk mengikuti kegiatan terjadwal ketika di TK.
  3. Ajak anak untuk melihat dunia luar selain rumah, beri kesempatan untuk bermain dan berinteraksi dengan anak lain.  Ketika ayah & bunda bertemu dengan rekan atau keluarga lain, ajarkan pada anak respek dan sopan santun, misalnya dengan memberi salam
  4. Kenalkan anak dengan lingkungan sekolah, kelas, guru-guru dan staff, bisa dilakukan minimal seminggu sebelum waktu sekolah.
  5. Tumbuhkan minat anak untuk bersekolah dengan membicarakan hal-hal menarik yang akan ia alami saat bersekolah.
Untuk membantu ayah & bunda di Rubel School menerapkan tips pertama, kami juga mengajarkan beberapa lagu lengkap dengan gerakannya, cara menggunakan beberapa hal yang ada di rumah untuk membantu anak belajar, seperti sikat gigi untuk mengajar warna, brosur untuk mengajarkan macam-macam buah, cara membaca buku yang interaktif dan beberapa hal lainnya.  Rupanya dari keempat tips di atas, tips inilah yang jarang atau bahkan tidak pernah dilakukan oleh para orang tua.  Kami berharap setelah pertemuan sabtu kemarin, ayah + bunda di Rubel School bisa lebih sering melakukannya.  Bagaimana dengan ayah + bunda ?  Apakah sudah bermain, bernyanyi, membaca buku dan berkegiatan bersama anak?  Seberapa seringkah?  Semoga jawabannya sudah dan sering, karena kalau itu jawabnya maka ayah & bunda adalah partner yang baik bagi kesuksesan anak di sekolah.  

Ada banyak alasan untuk tidak melakukannya.  Bisa karena tidak ada waktu, tidak biasa, atau tidak bisa.  Pilihan kami kembalikan ke ayah dan bunda.  Kami sampaikan beberapa manfaat lainnya jika ayah & bunda mau berusaha melakukannya, yaitu :
  1.  Menguatkan hubungan orang tua dengan anak.  Ketika ayah & bunda bermain bersama anak, maka anak akan melihat ayah & bunda mereka sebagai teman.  Hal ini mencegah terciptanya gap/jarak yang tercipta karena kesibukan rutinitas pekerjaan / kegiatan sehari-hari.  Membaca bersama anak memberi kesempatan untuk berdialok dengan anak, anak dan orang tua dapat bergantian bertanya dan anak dapat belajar untuk mendengarkan.  Sering terjadi dari kegiatan membaca bersama orang tua dapat memahami permasalahan yang dihadapi oleh anak, karena anak jadi lebih terbuka untuk menceritakan pengalamannya.
  2. Mengasah kecerdasan dan kreatifitas anak.  Bermain, bernyanyi dan membaca buku adalah rangsangan yang sesuai dengan kebutuhan anak usia dini.  Kegiatan-kegiatan tersebut akan mengasah kecerdasan dan kreatifitas mereka.  Apa yang dibentuk pada usia dini akan mempengaruhi keberhasilannya di kemudian hari.
  3. Mengatasi permasalahan perilaku anak.  Misalnya : ayah + bunda dapat bermain sekolah-sekolahan dengan anak untuk mengatasi keengganan anak bersekolah, ayah + bunda dapat membacakan buku tentang makan itu sehat untuk mengatasi masalah makan anak, atau bernyanyi bersama dengan anak untuk mengajak anak yang malas sikat gigi.
  4. Membantu mengatasi stress.  Ayah & bunda bisa merasakan sendiri dampaknya, bahwa bermain dan bernyanyi atau melakukan kegiatan bersama anak dapat membantu mengatasi stress dan membuat ayah & bunda lebih bahagia.
Saat ini kita dipermudah oleh teknologi untuk mendapat informasi yang kita butuhkan.  Jika ayah & bunda mengalami masalah untuk mendapatkan cara bermain/bernyanyi/berkegiatan dengan anak, ayah & bunda dapat mencari informasinya di internet.  Banyak website yang bisa ayah & bunda kunjungi untuk mendapat informasi permainan, lagu atau kegiatan untuk anak, salah satunya adalah ayomenyanyi.com untuk kumpulan lagu-lagu indonesia.  Ayah & bunda juga dapat meminta informasi dan belajar dari guru-guru TK tempat anak anda belajar.

Demikian ayah & bunda, semoga semakin semangat mendukung keberhasilan anak di sekolah.  Tugas itu  tidak berhenti ketika mengantar anak pertama kali ke sekolah tapi juga terus berlangsung selama anak bersekolah.  Untuk semakin menyemangati ayah & bunda, tulisan ini akan kami tutup dengan kutipan pendapat salah satu orang terkenal yang peduli pendidikan anak.  Silahkan disimak kutipan dari pidato presiden Amerika Barack Obama  :   To parents, we can’t tell our kids to do well in school and then fail to support them when they get home.  You can’t just contract out parenting.  For our kids to excel, we have to accept our responsibility to help them learn.”



Rabu, 15 Mei 2013

Mengisi Liburan Sekolah Dengan Aktivitas Menarik dan Bermanfaat

Hai smart mom & dad! Menjelang liburan sekolah, yuk ajak si buah hati mengikuti kegiatan liburan yang menyenangkan.
Di liburan kali ini, KidsDale punya program baru lho, "Program BEE" untuk menumbuhkan dan mengasah tanggung jawab pada si buah hati.
Program BEE akan dilaksanakan pada tanggal:

  • 22 Juni 2013 untuk buah hati usia 4-6 tahun
  • 29 Juni 2013 untuk buah hati usia 7-9 tahun
Smart mom & dad, jangan sampai ketinggalan ya untuk mendaftarkan si buah hati. Ada harga spesial lho jika segera mendaftar, info lebih lanjut hubungi kami :  Melly - 085215617835 dan Lisa - 081513485480.

Sabtu, 11 Mei 2013

Tontonan anak: Terserah Pembantu?


Oleh Gita Nur Patria dan Helmi Arman*

Orang tua dan guru harus pro-aktif menjaga agar anak tidak menonton 
film-film yang belum sesuai untuk usianya.


Beberapa waktu lalu, saya sempat dikejutkan oleh teguran dari guru anak saya. Ia mengeluhkan ‘ketertinggalan’ anak saya dibandingkan anak-anak lain dalam hal tontonannya di rumah.

Saya memang selalu menjaga agar si kecil selalu menonton sesuatu yang diperuntukkan untuk anak seusianya. Pada saat berumur 5 tahun, ia masih sangat menyukai kartun Thomas and Friends. Jadi saya cukup terkejut ketika guru kelasnya menyarankan agar ia disuguhi film-film semi dewasa seperti Transformers, Spiderman the Movie, dan lain-lain. Alasannya agar si anak lebih mengerti apa yang dibicarakan oleh teman-temannya dan tidak merasa disisihkan dalam pergaulan.

Saran dari gurunya tersebut lantas menimbulkan pertanyaan dalam pikiran saya. Apakah sesuatu yang salah bisa dibenarkan hanya karena semua orang melakukannya? Dimana tanggung jawab kita sebagai orang tua dan guru dalam menjaga anak dari pikiran-pikiran serta keinginan negatif yang pasti akan timbul akibat menonton hal-hal yang belum sepatutnya?

Perlu diketahui bahwa hampir semua film dari barat itu diberi peringkat oleh lembaga yang disebut MPAA (Motion Picture Association of America). Film-film seperti Iron man, Transformers, Spiderman itu diberikan peringkat PG-13. Artinya film tersebut bisa mengandung elemen-elemen kekerasan, adegan-adegan dewasa dan bugil, serta kata-kata kasar yang tidak pantas dipertontonkan kepada anak di bawah usia 13 tahun.

Banyak orang tua Indonesia tidak memperhatikan atau tidak peduli akan arti pentingnya pemeringkatan ini. Bahkan tak jarang di bioskop kita melihat anak-anak kecil diajak orang tuanya menonton film yang jelas-jelas berperingkat R (Restricted), yang selain mengandung kekerasan tingkat tinggi, juga memperlihatkan adegan-adegan telanjang berorientasi seksual, bahkan juga penyalahgunaan narkotika!

Saya pernah berbicara dengan anak berumur 5 tahun yang mengatakan bahwa ia sudah memiliki “pacar” yang “seksi banget”. Ketika saya tanyakan arti dari kedua istilah tersebut, anak itu dengan percaya diri menjelaskan bahwa pacar itu untuk di-“cium-cium” dan seksi itu adalah buah dada yang besar. Ini bukanlah hal yang lucu, melainkan suatu gejala yang mengerikan!

Banyak anak di negeri ini menonton film berjam-jam dalam sehari tanpa didampingi oleh orang tua mereka. Padahal pengaruh TV dan film terhadap perkembangan anak sangat besar, apalagi pada anak berusia dini yang kemampuan kognitifnya masih terbatas. Seorang anak kecil akan mempercayai apa yang ia lihat di TV sebagai suatu hal yang nyata: Apa yang di-iklankan harus dibeli, dan nilai-nilai serta perilaku yang dipertontonkan boleh ditiru… termasuk kekerasan dan seks.

Penelitian menunjukkan bahwa anak kecil yang terlalu banyak disuguhi film action bisa tumbuh menjadi anak agresif yang merasa bahwa kekerasan adalah satu-satunya jalan keluar dari masalah. Sementara itu anak-anak yang sudah disuguhi film dewasa ketika masih kecil cenderung akan lebih dini melakukan kegiatan seksual dibandingkan dengan anak yang hanya menonton kartun.

Oleh karena itu kebijakan orang tua dalam mengawasi dan memilih tontonan anak merupakan salah satu faktor nyata yang akan membentuk karakter serta perilaku si anak. Apakah belum cukup banyak berita di negeri ini mengenai anak kecil yang sudah berani mengambil nyawa manusia lain? Atau berita akan banyaknya remaja yang harus putus sekolah karena hamil atau menghamili anak lain?

Kita sebagai orang tua memiliki tanggung jawab besar agar anak didik kita tidak berperilaku dewasa sebelum waktunya. Orang tua harus pro-aktif mengawasi dan mengatur kadar konsumsi media TV anaknya. Ini tidak boleh diserahkan pada pembantu saja!

Pertama, perhatikan rating film yang ditonton si anak: apakah G, PG, PG-13 atau R? Film berjudul tokoh komik bukan berarti boleh ditonton semua anak. Kedua, jangan menghadiahi TV atau komputer di dalam kamar anak. Porsi waktu ideal menonton TV atau film itu hanya 1-2 jam per-hari; aturan ini lebih mudah diterapkan bila TV berada di luar kamar. Ketiga, orang tua hendaknya membuka komunikasi dan diskusi dengan anak mengenai film apa yang boleh ditonton. Si anak perlu tahu mengapa mereka dilarang menonton film atau acara TV tertentu. Bantulah ia memahami bahwa pada acara tersebut terdapat materi-materi yang tidak sesuai dengan usianya.

Sebelum anak saya meminta-minta diberikan tontonan dewasa karena teman-temannya, saya berusaha meyakinkan gurunya bahwa hal terbaik yang patut ia lakukan adalah membangkitkan rasa percaya diri pada murid-muridnya:  Bahwa setiap anak berumur 5 tahun yang masih menyukai Thomas and Friends tidak perlu merasa kecil hati menghadapi teman-temannya yang mungkin sudah ahli menonton film-film kekerasan dan adegan sensual.

Saya juga menyarankan Ibu guru agar bisa mengalihkan perhatian anak-anak kepada kegiatan-kegiatan positif yang melibatkan mereka bermain bersama, sehingga si anak penyuka Thomas tidak merasa disisihkan. Alhamdulillah, setelah cukup lama berdiskusi akhirnya kami pun sepakat akan membantu anak saya “diterima” oleh teman-temannya di sekolah tanpa harus melanggar aturan dari orang tuanya. Mudah-mudahan tetap demikian ke depannya.


*Penulis merupakan pasangan orang tua yang prihatin

Selasa, 31 Juli 2012

Bermain Meningkatkan Berbagai Perkembangan

Hai Bunda

Sudah beberapa minggu ini kegiatan di sekolah kembali beraktivitas. Smoga tahun ajaran ini lebih baik dari kemarin.
Beberapa kegiatan yang KidsDale lakukan selama liburan sekolah kemarin, salah satunya adalah bermain dan memasak bersama. Art and Craft bekerjasama dengan LingoWorld Sunter.

Foto-foto kegiatan kami lampirkan disini ...
kita melalukan gunting-tempel-berkreasi dengan berbagai kancing, pita, dll

membeli persiapan untuk memasak, makan dan minum

siapa bilang anak laki-laki tidka bisa memotong bawang dan memasak??

spagetti pun siap kami hidangkan untuk makan siang sebelum akhirnya kami nonton Brave :)
Kegiatan ini melatih motorik (kasar dan halus) serta kognitif anak-anak dalam beraktivitas.
Jangan ketinggalan kegiatan yang lebih menarik lagi..
Nantikan info kami berikutnya

Kamis, 14 Juni 2012

Here come the SUN; Here come the FUN

Where's the fun? This school-breaks is short but sweet where we live. Kids wanna have FUN not just stay at home, doing nothing... 
There’s no excuse for children to be bored with so much taking place over the school-breaks.
You may ask your kid(s) to have fun with us. We provide activities..


KidsDale’s commitment to providing activities that are suitable for children three to six aged and abilities, without barriers, means that most of the activities are now fully accessible and suitable. Every effort will be made to welcome children of all abilities on to any course (parents/carers are welcome to check the suitability of courses direct with the centre). This school-break, we joined with Lingoworld (English Course) at Sunter to do our FUN.

With activities ranging from arts & crafts, cookery, storytelling to drama and team building activities, there is bound to be something for everyone; and the brochure has been re-designed to make it even easier to find activities of interest.  



 An Activity a day keeps the boredom away and educate more ;)

Senin, 04 Juni 2012

Macam-macam Anxiety Disorders


SOCIAL PHOBIA
Social phobia adalah ketakutan akan sosial atau keperluan perbuatan yang nyata dan terus-menerus yang akan menyebabkan mereka memiliki rasa malu.  Para penderita tersebut umumnya menghindari situasi keramaian.  Apabila ada kehadiran orang lain, mereka merasa malu, terdiam, atau berusaha sembunyi.  Bagi yang memiliki social phobia yang sangat ekstrim, mereka merasa cemas pada sebagian besar aktivitas biasa, seperti membagikan kertas di kelas, mengancingkan jaket di depan orang lain, dan memesan makanan di restoran.  Ketakutan utamma mereka adalah melakukan sesuatu di depan orang lain.  Mereka takut apabila mereka berbicara di depan publik, kata-kata yang dikeluarkan kurang jelas; jika mereka bertanya mereka akan terdengar seperti orang bodoh; apabila mereka jalan masuk ke suatu ruangan, mereka mungkin tersandung atau terlihat aneh.
Penderita social phobia kemungkinan besar yang juga memiliki tingkat emosi, ketakutan sosial, sedih, dan kesepian yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang lain.  Ketakutan mereka akan suatu hal yang dapat memicu penghinaan sangat tinggi dan dalam sehingga seringkali mengarah kepada kesendirian dan kesengsaraan karena mereka tidak dapat melakukan suatu hubungan yang diinginkan.  Pada kasus yang lebih parah, penderita dapat mengembangkan generalized social phobia.  Mereka takut terhadap sebagian besar situasi sosial, takut untuk bertemu atau berbicara dengan orang yang baru dikenal, menghindari kontak dengan orang-orang di luar keluarganya, sulit untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial, dan sulit untuk datang ke sekolah.
Social phobia terjadi pada 1%-3% anak-anak dan remaja serta lebih banyak terjadi pada anak perempuan dibandingkan dengan laki-laki.  Hal tersebut karena anak perempuan lebih khawatir mengenai kompetensi sosial dibandingkan dengan laki-laki.  Selain itu, 2/3 anak remaja yang mengalami social phobia juga memiliki anxiety disorders lainnya, seperti specific phobia atau panic disorder.  Kurang lebih sekitar 20% remaja yang memiliki social phobia juga menderita major depression.  Mereka mungkin menggunakan alkohol dan obat-obatan untuk mengurangi kecemasan mereka terhadap situasi sosial.
Social phobia sangat jarang terjadi pada anak berusia di bawah 10 tahun dan secara umum berkembang setelah pubertas.  Hal tersebut karena pada masa itu remaja sadar akan diri mereka  sehingga terkadang memiliki keraguan dan kekhawatiran akan penampilan mereka.  Di bawah ini adalah kriteria diagnostik untuk social phobia :
DSM-IV-TR
A
A marked and persistent fear of one or more social or performance situations in which the person is exposed to unfamiliar people or to possible scrutiny by others. The individual fears that he or she will act in a way (or show anxiety symptoms) that will be humiliating or embarrassing
Note: in children, there must be evidence of the capacity for age-appropriate social relationships with familiar people, and the anxiety must occur in peer settings, not only in interactions with adults
B
Exposure  to the feared social situation almost invariably provokes anxiety, which may  take the form of a situationally bound or Csituationally predisposed panic attack
NDote: in children, the anxiety may be  expressed by crying, tantrum, freezing, or shrinking from social situations with unfamiliar people
C
The person recognizes that the fear is excessive or unreasonable
Note : in children, this feature may be absent
D
The feared social or performance situations are avoided or else are endured with intense anxiety or distress


SELECTIVE MUTISM
Anak dengan selective mutism gagal untuk berbicara pada situasi sosial tertentu atau spesifik, walaupun mereka dapat berbicara dengan keras dan sering ketika berada di rumah atau lingkungan lain.  Kelainan ini tidak umum dan hanya terjadi pada kurang lebih 0,5% dari seluruh anak-anak.  Walaupun tidak termasuk ke dalam anxiety disorders menurut DSM-IV-TR, selective mutism memiliki banyak faktor yang umumnya terjadi pada anxiety disorders.  Berdasarkan persamaan tersebut, selective mutism disarankan sebagai tipe ekstrim dari social phobia, bukan unique disorder.  Namun, terdapat perbedaan antara social phobia dan selective mutism, misalnya pada selective mutism terjadi komunikasi sosial dalam bentuk non verbal.  Selain itu, beberapa anak dengan selective mutism mungkin juga memiliki keterlambatan perkembangan, kelemahan dalam bahasa, atau penurunan proses auditori.


SCHOOL PHOBIA
Bagi sebagian anak, sekolah merupakan tempat yang menakutkan, sehingga mereka merasa cemas dan tidak ingin pergi ke sekolah.  Perilaku anak tersebut disebut dengan school refusal behavior.  mereka umumnya akan menolak untuk pergi ke sekolah, atau apabila mereka sudah berada di sekolah mereka akan menolak untuk masuk ke kelas.  Mereka akan membuat berbagai macam alasan agar diperbolehkan tidak ke sekolah atau diizinkan pulang dan tidak perlu masuk ke kelas, seperti pusing, sakit tenggorokan, dan lain-lain.  Ketakutan dan kecemasan mereka akan sekolah disebut dengan school phobia.

Mash, E. J. & Wolfe, D. A. (2010). Abnormal Child Psychology, 4th Edition. Wadsworth: USA