Where's the fun? This school-breaks is short but sweet where we live. Kids wanna have FUN not just stay at home, doing nothing...
There’s no excuse for children to be bored with so much taking place over the school-breaks.
You may ask your kid(s) to have fun with us. We provide activities..
KidsDale’s commitment to providing activities that are
suitable for children three to six aged and abilities, without barriers, means
that most of the activities are now fully accessible and suitable.
Every effort will be made to welcome children of all abilities on to any
course (parents/carers are welcome to check the suitability of courses
direct with the centre). This school-break, we joined with Lingoworld (English Course) at Sunter to do our FUN.
With activities ranging from arts & crafts, cookery, storytelling to drama and team building activities, there is bound to be
something for everyone; and the brochure has been re-designed to make it
even easier to find activities of interest.
An Activity a day keeps the boredom away and educate more ;)
Mengarahkan dan Mengembangkan Anak Usia Dini Sesuai dengan Kemampuan dan Potensinya
Kamis, 14 Juni 2012
Senin, 11 Juni 2012
Senin, 04 Juni 2012
Macam-macam Anxiety Disorders
SOCIAL PHOBIA
Social phobia adalah ketakutan akan
sosial atau keperluan perbuatan yang nyata dan terus-menerus yang akan
menyebabkan mereka memiliki rasa malu.
Para penderita tersebut umumnya menghindari situasi keramaian. Apabila ada kehadiran orang lain, mereka
merasa malu, terdiam, atau berusaha sembunyi.
Bagi yang memiliki social phobia yang sangat ekstrim, mereka merasa
cemas pada sebagian besar aktivitas biasa, seperti membagikan kertas di kelas,
mengancingkan jaket di depan orang lain, dan memesan makanan di restoran. Ketakutan utamma mereka adalah melakukan
sesuatu di depan orang lain. Mereka
takut apabila mereka berbicara di depan publik, kata-kata yang dikeluarkan kurang
jelas; jika mereka bertanya mereka akan terdengar seperti orang bodoh; apabila
mereka jalan masuk ke suatu ruangan, mereka mungkin tersandung atau terlihat
aneh.
Penderita social phobia kemungkinan
besar yang juga memiliki tingkat emosi, ketakutan sosial, sedih, dan kesepian
yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang lain. Ketakutan mereka akan suatu hal yang dapat
memicu penghinaan sangat tinggi dan dalam sehingga seringkali mengarah kepada
kesendirian dan kesengsaraan karena mereka tidak dapat melakukan suatu hubungan
yang diinginkan. Pada kasus yang lebih
parah, penderita dapat mengembangkan generalized social phobia. Mereka takut terhadap sebagian besar situasi
sosial, takut untuk bertemu atau berbicara dengan orang yang baru dikenal, menghindari
kontak dengan orang-orang di luar keluarganya, sulit untuk berpartisipasi dalam
kegiatan sosial, dan sulit untuk datang ke sekolah.
Social phobia terjadi pada 1%-3% anak-anak dan remaja serta lebih banyak terjadi pada anak perempuan
dibandingkan dengan laki-laki. Hal
tersebut karena anak perempuan lebih khawatir mengenai kompetensi sosial
dibandingkan dengan laki-laki. Selain
itu, 2/3 anak remaja yang mengalami social phobia juga memiliki
anxiety disorders lainnya, seperti specific phobia atau panic disorder. Kurang lebih sekitar 20% remaja yang memiliki
social phobia juga menderita major depression.
Mereka mungkin menggunakan alkohol dan obat-obatan untuk mengurangi
kecemasan mereka terhadap situasi sosial.
Social
phobia sangat jarang terjadi pada anak berusia di bawah 10
tahun dan secara umum berkembang setelah pubertas. Hal tersebut karena pada masa itu remaja
sadar akan diri mereka sehingga
terkadang memiliki keraguan dan kekhawatiran akan penampilan mereka. Di bawah ini adalah kriteria diagnostik untuk
social phobia :
|
DSM-IV-TR
|
|
|
A
|
A
marked and persistent fear of one or more social or performance situations in
which the person is exposed to unfamiliar people or to possible scrutiny by
others. The individual fears that he or she will act in a way (or show
anxiety symptoms) that will be humiliating or embarrassing
Note:
in children, there must be evidence of the capacity for age-appropriate
social relationships with familiar people, and the anxiety must occur in peer
settings, not only in interactions with adults
|
|
B
|
Exposure to the feared social situation almost
invariably provokes anxiety, which may
take the form of a situationally bound or Csituationally predisposed
panic attack
NDote:
in children, the anxiety may be
expressed by crying, tantrum, freezing, or shrinking from social
situations with unfamiliar people
|
|
C
|
The
person recognizes that the fear is excessive or unreasonable
Note
: in children, this feature may be absent
|
|
D
|
The
feared social or performance situations are avoided or else are endured with
intense anxiety or distress
|
SELECTIVE MUTISM
Anak dengan selective mutism gagal untuk
berbicara pada situasi sosial tertentu atau spesifik, walaupun mereka dapat
berbicara dengan keras dan sering ketika berada di rumah atau lingkungan
lain. Kelainan ini tidak umum dan hanya
terjadi pada kurang lebih 0,5% dari seluruh anak-anak. Walaupun tidak termasuk ke dalam anxiety
disorders menurut DSM-IV-TR, selective mutism memiliki banyak faktor yang
umumnya terjadi pada anxiety disorders.
Berdasarkan persamaan tersebut, selective mutism disarankan sebagai tipe
ekstrim dari social phobia, bukan unique disorder. Namun, terdapat perbedaan antara social
phobia dan selective mutism, misalnya pada selective mutism terjadi komunikasi
sosial dalam bentuk non verbal. Selain
itu, beberapa anak dengan selective mutism mungkin juga memiliki keterlambatan
perkembangan, kelemahan dalam bahasa, atau penurunan proses auditori.
SCHOOL PHOBIA
Bagi sebagian anak, sekolah merupakan
tempat yang menakutkan, sehingga mereka merasa cemas dan tidak ingin pergi ke
sekolah. Perilaku anak tersebut disebut
dengan school refusal behavior. mereka
umumnya akan menolak untuk pergi ke sekolah, atau apabila mereka sudah berada
di sekolah mereka akan menolak untuk masuk ke kelas. Mereka akan membuat berbagai macam alasan
agar diperbolehkan tidak ke sekolah atau diizinkan pulang dan tidak perlu masuk
ke kelas, seperti pusing, sakit tenggorokan, dan lain-lain. Ketakutan dan kecemasan mereka akan sekolah
disebut dengan school phobia.
Mash, E. J. & Wolfe, D. A. (2010). Abnormal Child Psychology, 4th Edition. Wadsworth: USA
Rabu, 16 Mei 2012
Kecemasan Berlebihan Pada Anak (Anxiety Disorders)
Setiap anak pasti mengalami
ketakutan, kekhawatiran atau kecemasan sebagai bagian dari perkembangan yang normal,
tetapi beberapa anak menderita anxiety
disorders, yaitu kecemasan yang berlebihan dan sangat melelahkan.
Barlow (2002) mendefinisikan
kecemasan (anxiety) sebagai
karakteristik suasana hati (mood) yang dipengaruhi oleh emosi negatif
yang kuat dan gejala fisik ketika anak mengantisipasi bahaya yang
akan datang atau kesulitan dengan penuh rasa kekhawatiran (Mash & Wolfe, 2010).
Dua kunci utama kecemasan
adalah emosi negatif yang kuat dan ketakutan. Anak yang mengalami kecemasan
yang berlebihan dikatakan sebagai anxiety
disorders, yang dapat
terjadi dalam berbagai bentuk.
Faktanya, kecemasan
merupakan hal yang normal dan diharapkan pada usia dan situasi tertentu.
Misalnya anak usia 1 tahun merasa khawatir ketika berpisah dengan ibunya,
kemudian perasaan cemas ketika akan melakukan hal yang penting seperti
menghadapi ujian. Tetapi kecemasan akan menjadi masalah ketika berlebihan.
Kecemasan yang tidak terkontrol dan berlebihan dapat melelahkan anak. Walaupun
anak tahu bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, anak akan tetap merasa
takut dan melakukan apa saja untuk menghindari situasi tersebut.
Kecemasan melibatkan reaksi
terhadap bahaya atau gangguan, reaksi ini dikenal sebagai fight/flight response. Fight
response adalah menghadapi bahaya tersebut. Sedangkan flight response adalah menghindari bahaya tersebut.
Gejala-gejala kecemasan
dapat dilihat melalui 3 sistem yang saling berkaitan, yaitu: fisik, kognitif dan tingkah laku. Misalnya secara fisik, meningkatnya jumlah keringat, mual, dan sebagainya. Kemudian secara kognitif, misalnya timbul pikiran negatif seperti ketakutan akan disakiti atau terluka dan sebagainya. Sedangkan secara tingkah laku misalnya dengan menangis atau berteriak, menggigit kuku, dan sebagainya.
Penting untuk membedakan
kecemasan dengan 2 bentuk emosi yang hampir sama yaitu takut dan panik. Takut
merupakan tanda reaksi yang langsung muncul ketika ada bahaya atau keadaan
darurat, reaksi emosi yang berorientasi pada saat
ini. Sedangkan kecemasan adalah reaksi
emosi yang berorientasi pada masa yang akan datang yang memiliki karakteristik
akan ketakutan pada sesuatu yang akan terjadi. Sedangkan panik adalah kumpulan gejala fisik
dari fight/flight response yang tidak
diharapkan pada bahaya atau ancaman yang tidak ada.
Separation Anxiety Disorder (SAD)
Separation
anxiety (kecemasan ketika berpisah) merupakan hal yang penting dan normal bagi anak-anak
pada usia tertentu. Dari usia 7 bulan hingga pra-sekolah, hampir semua anak
rewel ketika berpisah dengan orang tuanya atau orang yang dekat dengan dirinya.
Faktanya, tidak adanya kecemasan ketika berpisah pada usia tersebut dapat
diasumsikan bahwa mereka mengalami masalah.
Berdasarkan APA (dikutip
dari Karlovec, Yazdi, Rier, Marksteiner, & Aichhorn, 2008), separation anxiety disorder (SAD) khusus merujuk pada anak yang secara
ekstrem tidak mau berpisah dengan orang terdekatnya misalnya orangtua, kakek-nenek atau dari rumah.
SAD secara dramatis
mempengaruhi kehidupan anak dan orangtuanya karena mereka menjadi terbatas dalam melakukan
kegiatan yang sehari-hari. Ketika kecemasan terjadi setidaknya selama 4 minggu
dan cukup mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti pergi sekolah atau
berpartisipasi dalam rekreasi, kemungkinan anak mengalami separation anxiety disorder.
Beberapa anak memiliki
gejala fisik seperti sakit kepala atau sakit perut ketika berpikir akan
dipisahkan. Ketakutan akan berpisah menyebabkan tekanan pada anak dan
mempengaruhi kegiatan sehari-hari anak tersebut (Chakraburtty, 2009).
Anak-anak yang mengalami separation anxiety disorder, setidaknya
memiliki ciri-ciri berikut, yaitu:
• Gejala
terlihat setidaknya 4 minggu
• Mempengaruhi
kegiatan sehari-hari seperti pergi sekolah, dll.
• Umur
yang tidak sesuai dan kecemasan yang berlebihan jika dipisahkan atau jauh dari
orang tuanya.
• Mimpi
buruk berulang-ulang
• Takut
akan situasi baru & komplain fisik
Separation
anxiety disorder (SAD) merupakan salah satu anxiety disorders
yang umum terjadi pada masa kanak-kanak. Separation
anxiety disorder (SAD) biasanya dilaporkan pada usia 7 hingga
8 tahun. SAD biasanya meningkat dari “mild
to severe”. Hal ini bermula dari keinginan yang mengganggu atau komplain,
misalnya bermimpi buruk, yang akhirnya si anak tidur dengan orang tua nya. SAD juga
dapat terjadi setelah anak mengalami stress seperti pindah ke rumah atau
sekolah baru, kehilangan anggota keluarga atau sehabis libur panjang
Daftar Referensi
Chakraburtty,
A. (2009). Separation Anxiety in Children.
WebMD Medical Reference. Available at: http://children.webmd.com/guide/separation-anxiety
Karlovech,
K., Yazdi, K., & et.al. (2008). Separation
Anxiety Disorder and School Refusal in Childhood: Potential Risk Factors for
Developing Distinct Psychiatric Disorders? The Primary Care Companion Journal
of Clinical Psychiatry, 10(1): 72–73. Physicians Postgraduate Press, Inc.
Available at: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2249814/
Mash,
E. J. & Wolfe, D. A. (2010). Abnormal
Child Psychology, 4th Edition. Wadsworth: USA
Kamis, 09 Februari 2012
Seni Untuk Meningkatkan Perkembangan Motorik Halus Pada Anak Usia 5 Tahun
Perkembangan anak selalu menjadi fokus utama para orang tua. Berbagai cara dapat digunakan orang tua untuk memaksimalkan perkembangan anak, salah satunya adalah kegiatan seni yang dapat dilakukan untuk menstimulasi motorik halus pada anak.
Motorik
halus adalah kemampuan fisik yang melibatkan otot-otot yang lebih kecil dan
koordinasi mata-tangan (Papalia, 2009). Aktivitas yang membutuhkan kemampuan motorik
halus yang baik pada usia early childhood (3-5 tahun) adalah menggambar, mewarnai, melukis, menggunting dan menjiplak (Morrison,
2009).
Perkembangan
motorik halus anak pada usia 5 tahun (diadaptasi dari BKKBN (1991), Kemendikan
(2009), dan Papalia, Olds, & Feldman (2002)), yaitu:
- Anak mampu menggambar orang atau objek yang dijumpai sehari-hari dengan modifikasi atau detil gambar
- Anak mampu mengatur dan merangkai benda tertentu dengan banyak pola, seperti meronce manik-manik dengan warna, ukuran, dan bentuk yang bervariasi, serta dapat mencontoh dari pola di buku
- Anak mampu menggunting bentuk-bentuk sederhana, seperti bentuk segiempat
- Anak mampu menulis angka dan huruf yang sederhana
Perkembangan kemampuan motorik halus pada anak
memungkinkannya untuk melakukan lebih banyak kegiatan yang memerlukan
keterampilan jari tangannya. Menurut Santrock (2008), salah satu kegiatan yang
melibatkan keterampilan jari tangan dan banyak disukai anak adalah kegiatan
menggambar.
Hal ini berkaitan dengan kemampuan artistik anak sesuai
dengan tahap perkembangan usianya. Ketika menginjak usia 2 tahun, rata-rata
anak biasanya mampu menggambar scribble,
yaitu bentuk dasar dalam gambar seperti garis, lingkaran, dan gambar benang
kusut. Antara usia 2 hingga 3 tahun,
tahap perkembangan anak dalam menggambar memasuki placement stage, yaitu tahap menggambar ketika anak menggambar sesuatu dalam pola tertentu.
Pada usia 3 tahun, anak berada pada tahap shape stage dan di tahap ini mereka
mampu menggambar pola geometri sederhana seperti persegi, lingkaran, segi tiga,
dan sebagainya (Kellog, 1970 dalam Santrock, 2008). Pada tahap shape stage, kemampuan motorik halus
anak belum berkembang dengan baik sehingga garis pada bentuk geometri sederhana
tersebut masih bergelombang dan sudut bentuk geometri yang mereka gambar masih belum solid.
Pada usia 3 hingga 4 tahun, anak berada pada tahap design stage dimana mereka mampu
menggambar suatu benda dari dua atau lebih bentuk geometri tertentu, misalnya
menggambar rumah yang tersusun dari gambar segi tiga dan persegi (Kellog, 1970
dalam Santrock, 2008). Ketika berusia 4
hingga 5 tahun, anak mulai bisa menggambar benda yang ada di dunia nyata dan hasil gambarnya pun sudah dapat dimengerti oleh orang dewasa dalam sekali
lihat, misalnya gambar ayam, kucing, dan sebagainya. Tahap ini dinamakan tahap pictorial stage.
Aktivitas
Aktivitas-aktivitas yang dapat dilakukan orangtua untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak, antara lain:
Aktivitas-aktivitas yang dapat dilakukan orangtua untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak, antara lain:
- Bermain permainan warna. Perlihatkan ke anak jika warna kuning dicampur warna biru menjadi hijau, merah dicampur kuning menjadi oranye dan sebagainya. Dalam aktivitas ini bebaskan anak mengeksplor dalam mencampur warna.
- Mewarnai gambar dengan tema tertentu misalnya gambar keluarga dengan mewarnai ibu, bapak, kakak dan adik
- Menyalin gambar atau tulisan
- Menggunting dan menempel gambar
- Meronce dengan manik-manik.
- Melipat origami, misalnya membuat origami burung, katak dan sebagainya.
- Menggambar bebas dan biarkan imajinasi anak berkembang.
Aktivitas di atas bertujuan untuk
meningkatkan perkembangan dan melatih motorik halus anak melalui seni yang juga
disesuaikan dengan perkembangan artistik anak usia 5 tahun. Selain
itu, aktivitas ini dapat juga untuk meningkatkan minat anak terhadap seni
dengan memperlihatkan bahwa seni dapat dilakukan dengan berbagai media dan anak
bebas mengekspresikannya.
Oleh: Nony Fardillah
Daftar Referensi
Papalia,
Diane E., Olds, Sally Wendkos, & Feldman, Ruth Duskin. (2002). A child’s
world: Infacy through adolescence. (9th ed.). New York: McGraw-Hill Companies,
Inc.
Papalia,
Diane E. (2004). Human development (9th ed). New York: McGraw-Hill Companies,
Inc.
Santrock,
John W. (2008). Children. (10th ed.).
New York: McGraw-Hill Companies, Inc.
Senin, 06 Februari 2012
Kecerdasan dan Gaya Belajar Anak Berbeda-beda.
“Kok susah
banget ya membuat anakku paham itung-itungan sesimpel ini?” keluh seorang ibu
tentang anaknya.
“Anakku mah
nggak sepinter anak ibu itu, dia nggak pernah dapet ranking di sekolahnya.”
ungkap seorang teman.
Pernahkah anda
mendengar ungkapan-ungkapan di atas? Atau anda mengalami hal yang serupa? Ungkapan-ungkapan di atas , walau
dinyatakan dalam bentuk negatif, mengandung esensi perhatian orang tua pada
kemampuan anaknya.
Jika anak lambat
paham atau anak tidak pernah juara kelas, apakah berarti anak kita termasuk
dalam kategori tidak pandai?
Sehingga sebagai orang tua kita dapat berkecil hati karena merasa kurang
beruntung memiliki anak yang tidak dapat kita banggakan? Selain bahwa setiap anak pantas mendapat
kasih sayang tanpa syarat dari orang tua (walau dia “tidak pintar”), para orang
tua tidak perlu buru-buru untuk berkesimpulan negatif terhadap kondisi anaknya.
Kecerdasan anak tidak bisa dilihat hanya satu faktor
saja, misalnya jika ia kesulitan berhitung, bukan berarti ia tidak cerdas, ia
hanya butuh dibimbing dengan cara yang lebih sesuai dengan gaya belajarnya. Hal ini telah dinyatakan oleh Howard
Gardner dalam bukunya Frames of Mind (1983), semua orang
memiliki kecerdasan individual dan gaya belajar sendiri. Gardner membagi kecerdasan dan gaya
belajar manusia menjadi 8 (delapan), yaitu :
1.
Linguistic –
sensitif pada arti atau urutan kata
2.
Logical-mathematical –
kemampuan untuk menganalisa dan mengenali pola dan urutan.
3. Bodily-kinesthetic –
kemampuan untuk menggerakkan tubuh dengan luwes dan melakukan aktivitas dengan
terampil.
4. Musical –
sensitif pada nada, melodi dan irama
musik.
5. Spatial –
kemampuan untuk mempersepsi dunia
secara akurat
6. Naturalist
– kemampuan untuk mengenali dan
mengklasfikasikan berbagai makhluk hidup di alam semesta.
7. Interpersonal
– mudah memahami orang dan membina
hubungan dengan oran g lain.
8. Intrapersonal
– mampu mengontrol perasaan dan moodnya.
Umumnya
anak-anak memiliki lebih dari satu kecerdasan dan gaya belajar tersebut, jadi
tidak hanya satu macam saja.
Lalu
bagaimana kita dapat mengetahui kecerdasan dan gaya belajar anak kita?
Kenali
anak anda dengan melakukan pengamatan harian, beberapa anak sudah menunjukkan
preferensinya sejak bayi, namun
secara umum menurut Thomas
R. Hoerr PhD dalam artikelnya yang berjudul How is your child smart? anak menunjukkan
preferensinya sejak usia dua tahun.
Bagaimana
kita mengamatinya? Thomas R Hoerr
PhD menyatakan :
· Jika anda amati anak anda menggunakan kata-kata yang kaya variasi,
dia sangat suka bercerita, suka tebak kata, suka bercanda dan suka aktivitas
yang berkaitan dengan kata-kata, maka ia cerdas linguistic.
· Jika anak anda suka beraktivitas dengan angka, memiliki
keingintahuan yang besar akan bagaimana sebuah benda (misalnya mainannya) dapat
beroperasi, dan senang menanyakan segala sesuatu, maka ia cerdas logical mathematic.
· Jika anak anda sangat menikmati olah raga dan sangat
mencintai aktivitas fisik, maka anak anda cerdas bodily kinesthetic.
· Jika anak anda suka mendengarkan musik, bermain musik,
bernyanyi, bergerak mengikuti irama musik, atau menciptakan irama lagu, anak
anda cerdas musical.
· Jika anak anda menikmati bermain puzzle, mazes, menyusun
balok-balok, membongkar dan memasang bagian sebuah benda, maka anak anda cerdas
spatial.
· Jika anak anda senang melakukan aktivitas di alam, mengamati
tanaman, mengkoleksi batu-batuan, menangkap serangga, sangat menikmati akvitas
di alam, anak anda cerdas naturalist.
· Jika anak anda punya banyak teman, mudah bergaul dan cenderung
menjadi team player, maka anak anda cerdas interpersonal.
· Jika anak anda lebih nyaman melakukan aktivitas sendiri dan
ketika bersama-sama teman-temannya lebih senang menjadi pengamat dan pendengar,
maka anak anda cerdas intrapersonal.
Apa
manfaat anda mengetahui tipe kecerdasan dan gaya belajar anak anda?
· Orang tua terhindar dari frustasi ketika membantu anak
belajar. Ketika orang tua
menyesuaikan cara yang ia gunakan dengan gaya belajar anak, maka anak akan
paham dengan lebih mudah dan nyaman baginya.
· Orang tua dapat membantu anak untuk belajar dengan cara yang
lebih menyenangkan bagi anak, sehingga anak dapat berkembang secara lebih
seimbang dan tidak stress.
Berbagai
contoh pemanfaatan multiple intelligence
dalam kegiatan belajar anak :
· Bagaimana membantu anak yang cerdas linguistic untuk belajar menghitung?
Ajak
ia untuk membaca buku yang mengharuskan karakter menghitung benda, lalu minta
ia menceritakan kembali apa yang dibacanya.
· Bagaimana membantu anak yang cerdas logical mathematic untuk belajar makhluk hidup?
Minta
ia menggolong-golongkan hewan-hewan berdasar kemiripan ciri.
· Bagaimana membantu anak yang cerdas bodily kinesthetic untuk belajar konsep panjang dan pendek?
Minta
ia melempar berbagai jenis benda dan minta ia mengukur jarak lemparnya.
· Bagaimana mengajarkan matematika pada anak yang cerdas musical?
Gunakan
lagu-lagu yang ada kaitannya dengan matematika.
· Bagaimana mengajarkan alfabet pada anak yang cerdas spatial?
Gunakan
balok bergambar alfabet, atau minta ia menyusun puzzle bergambar alfabet.
· Bagaimana mengajarkan konsep warna pada anak yang cerdas naturalist?
Jelaskan
konsep tersebut dengan menunjukkan contohnya di alam, misalnya warna
bunga-bungaan atau warna pelangi.
· Bagaimana mengajarkan konsep pembagian angka pada anak yang
cerdas interpersonal?
Beri
contoh dengan melibatkan kegemarannya berteman, misalnya jika kau punya
sepotong kue, sedangkan temanmu ada 3, bagaimana caranya agar semua mendapat
potongan kue yang sama besar?
· Bagaimana mengajarkan pelajaran science kepada anak yang
cerdas intrapersonal?
Beri
kesempatan pada anak untuk merasakan dan mengeksplor topik yang akan
dipelajari, lalu beri kesempatan padanya untuk menjelaskan pengalaman dan
perasaannya tentang topik tersebut dengan cara menuliskannya atau menggambarkannya
di sebuah kertas.
Jangan lupa
bahwa seorang anak, biasanya memiliki lebih dari satu kecerdasan dan gaya
belajar. Hal ini tentunya membuka peluang bagi kita, orang tua dan pendidiknya
untuk memvariasikan cara pembelajaran yang kita gunakan dan tidak hanya
menyerah pada satu cara saja.
Oleh : Widiana
Daftar Pustaka
Gardner, H. (2006). Multiple
Intelligence. USA: Basic Books.
Hoerr, T. R. (2012). Parents.
Retrieved 2 6, 2012, from Scholastic.com:
www.scholastic.com/resources/article/how-is-your-child-smart/
Kamis, 02 Februari 2012
Seni Mencoret-coret Dapat Merangsang Otak
Apa yang akan anda lakukan bila anda ibu Zorro? Sebagai
orangtua, kita seringkali keliru dengan persepsi yang kita miliki. Coret-coret
membuat, rusak cat dinding rumah kita yang bagus. Telah ditemukan oleh Eisner
(2002) seni memberikan kontribusi pada pertumbuhan pikiran, karena doodle ‘gambar yang tidak berarti’
merupakan proses belajar bagi anak. Sistem yang meliputi interaksi antara
indrawi, atensi, kognitif, emosi dan motorik yang merupakan pendorong di proses
belajar lainnya.
Doodling
merupakan seni mencoret-coret yang sedang menjadi bahan perhatian banyak orang yang
berdampak pada perkembangan atensi di executive
function serta hemisphere kanan dan kiri. Atensi menurut Papalia (2009)
dalam bukunya Human Development
didefiniskan sebagai pemusatan daya mental seseorang. Sedangkan kontrol executive function penting dalam menekan
respon dominan tertentu dan juga peralihan atensi antara beberapa tugas yang
berbeda.
Ketika kita atau anak melakukan corat-coret, otak akan menjadi kreatif. Tiap individu mengembangkan berbagai seni yang
berbeda di bagian otak, menggunakan coret-coret turut membantu mengasah visual thinking. Bukankah kita ingin
anak tetap aktif, kreatif, tetapi juga merangsang otaknya. Nah, agar ini
terwujud, perhatikan tumbuh kembang dan pelajari apa yang perlu disediakan.
|
|
Bayi yang masih di fase oral, senang memasukkan barang atau
tangannya ke dalam mulut. Anak-anak sudah mampu membuat coret-coret. Atensi
sudah berkembang di masa ini. Menurut Papalia (2009), usia 4 bulan, bayi sudah
mengembangkan selective attention hingga
sustained attention, mampu bertahan selama
5 menit.
Tip:
siapkan alat tulis dengan ukuran cukup besar untuk digenggam. Lekas cuci atau
basuh tangannya setelah selesai beraktivitas.
Usia 12 - 36 bulan
Batita sudah bisa menggunakan krayon dan kuas cat,
perkembangan kognitifnya mengenai konsep ukuran, bentuk, warna dan ruang juga
berkembang dengan baik. Berdasarkan tokoh kognitif, Piaget anak mulai mengenal
simbol-realitas objek dari yang mengetahui dan diwakili dalam simbol-simbol
yang dibentuk dan dimanipulasi oleh pikiran. Atensi anak bertahan lebih lama
hingga 10 menit, tahapannya sudah pada executive
attention seiring dengan perkembangan pemahaman dan bahasa si anak. Pada
masa ini coret-coret awal dari menggambar, membaca dan menulis.
Usia 18 bulan, hemisphere kanan berkembang secara aktif,
berikan stimulasi yang kreatif. Coret-coret yang sederhana akan memiliki arti
(dinamai dan diberi suara). Usia mencapai 36 bulan, coret-coretnya akan
membentuk suatu gambar yang lebih baik dan jelas.
Tip:
Persiapkan alat gambar yang tepat, arahkan, beri contoh sehingga tidak
disembarang tempat. Perhatikan penggunaan tangannya (condong kanan atau kiri).
Tanyakan pada anak apa yang digambar dan berikan pujian secara lisan atau
pelukan, hindari pemberian manisan untuk hadiah. Siapkan buku gambar, kertas
tanpa garis, atau tempat melukis, agar otonominya berkembang dengan maksimal, jangan
membentak atau memarahi tanpa alasan, bila mencoret di dinding rumah Anda.
Berikan contoh pada anak untuk tempat yang tepat mencoret-coret.
Penting
Menganggap semua anak sama bukanlah pandangan yang tepat,
karena anak adalah unik dan tumbuh kembangnya berbeda (ada yang cepat ada pula
yang lambat). Pentingnya peran ibu dalam pemberian pendampingan (‘scaffolding’, diungkapkan oleh tokoh
psikologi, Vygotsky) dapat membantu meningkatkan ritme aktivitas otak.
Ada beberapa jenis mencoret-coret: bila berbentuk binatang,
menunjukkan anak yang bahagia; bentuk abstrak, menunjukkan pribadi yang
berfikir bebas; berbentuk bunga menunjukan kreativitas atau feminitas; bila
wajah menunjukkan emosi yang positif, negatif atau ragu-ragu.
Info mengenai otak
Empat perbedaan utama hemispheres pada otak
1.
Hemisphere kiri mengontrol bagian
kanan badan; hemisphere kanan mengontrol bagian kiri badan
2.
Hemisphere kiri berfikir logis;
hemisphere kanan berfikir serentak
3.
Hemisphere kiri fokus pada isi;
hemisphere kanan fokus pada konteks
4.
Hemisphere kiri menganalisa
rincian; hemisphere kanan melihat secara garis besar
Neuron atau sel di otak memiliki
jalur biokimia yang membuat mereka tumbuh dan menjangkau neuron lain setiap
kali mereka aktif. Sehingga menjaga dan mengembangkan neuron penting agar
mereka tetap berkembang terutama pada masa golden
age. Terlebih kabel otak kita tampaknya menjadi faktor utama dalam
penentuan sifat kreativitas kita.
Oleh : Tarcisia
Sumber:
Anonymous.
(2011). Do you doodle? Scholastic News vol. 79 no.20 , 2.
Anonymous. (2001). Scribbles can measure kids' development. USA Today vol.130 no.2679 , 5.
Cooper, N. (2007). Spootlight on... doodling. Personnel Today , 37.
Gazzaniga, M. (2008). Learning, Arts, and the Brain. New York: Dana Press.
Geddes, J. K. (2001). How doodles develop. Parenting vol.15 no.7 , 182.
Anonymous. (2001). Scribbles can measure kids' development. USA Today vol.130 no.2679 , 5.
Cooper, N. (2007). Spootlight on... doodling. Personnel Today , 37.
Gazzaniga, M. (2008). Learning, Arts, and the Brain. New York: Dana Press.
Geddes, J. K. (2001). How doodles develop. Parenting vol.15 no.7 , 182.
Langganan:
Postingan (Atom)

